Aku

akulah buku, yang telah menyerahkan setiap lembarnya untuk kau gores dengan tinta yang kau punya. sebagai apa kau kuingat, tergantung bagaimana kau menciptakan setiap goresan di tubuhku. aku percaya, di setiap lembar yang kupunya hanya akan ada senyum dan kebahagian yang tinggal di sana. tapi, ketika aku membuka lembar demi lembar tubuhku, kenapa kau meninggalkan goresan basah di atas goresan riang yang kau ciptakan? harusnya di lembar ini hanya ada bahagia bukan?

akulah sebuah luka yang menyerahkan setiap jengkal diriku untuk kau rawat. aku percaya,kau akan mengganti setiap perban yang menutupi luka ini setiap hari sampai ia memgering dan tak berbekas lagi. tapi, ketika aku merasa nyeri dan mengintip setiap sayatan ditubuhku, kenapa aku menemukan begitu banyak perban yang menutupinya? apa kau tidak menggantinya? harusnya hanya ada satu perban baru yang menutupinya bukan? tapi, kenapa justru perban-perban yang saling menumpuk dan bergumul darah ini? 

akulah bibir yang menitipkan senyum dan tawa kepadamu, bahagia. aku tidak akan pernah merasa letih meski harus terbahak setiap hari. tapi, kenapa senyum dan tawa yang kau berikan ini terasa berbeda? rasanya seperti jeruk nipis atau lemon tanpa campuran apa-apa? bahkan terkadang seperti asam kandis dan brotowali. inikah senyum dan tawa bahagia itu? 

akulah gembok yang telah menyerahkan anak kunciku untuk kau jaga dan miliki. agar hanya kau yang memiliki dan mampu membukanya. aku percaya kau akan menyimpannya, tapi kenapa kau membiarkan ia hilang begitu saja?

dan akulah bunga yang menyerahkan tubuhku untuk kau jelmakan sebagai apa. 
aku ingin menjadi kaktus. bisikku. tapi, kau menjadikanku mawar. kering, lalu layu dan terbuang.

0 Response to "Aku"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

loading...

Iklan Tengah Artikel 1

loading...

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...