Kembar Siam

Cinta. Luka. Dua hal berbeda namun begitu akrab bersandingan. Lahir bersama. Mereka kembar siam. Setidaknya itu menurutku. Bagaimana dengan bahagia? Bahagia bagiku hanya serupa kembang gula. Pernahkah kau jatuh cinta tanpa terluka? Pernahkah kau mencinta tanpa rasa nyeri yang meletup-letup di dada? Luka selalu sepaket dengan cinta. Pernah merasakan terluka tepat disaat hatimu jatuh cinta? Pernahkah? Aku pernah.

Ini bukan tentang luka karena cinta yang di tolak. Bukan pula luka karena cinta yang tak bisa bersama. Namun ini luka saat cinta sedang ada di dekatku. Sedang bersamaku. Milikku. Tidak. Ini bukan tentang kekasih yang mencintai orang lain. Atau barangkali iya. Barangkali memang kekasihku sedang mencintai orang lain. Perempuan lain.

Aku sedang jatuh cinta. Dan aku juga sedang terluka. Rasa nyeri, dan sesak meletup-letup di dadaku. Dadaku gunung. Gunung penuh gemuruh. Gunung yang ingin meletus namun tidak dengan memuntahkan laharnya. Melainkan menelan seluruhnya yang ada. Lahar yang membakar. Debu yang menyesakkan dan memerihkan. Bebatuan yang menghantam. Aku menelan apa yang harusnya aku muntahkan. Kenapa? Karena aku jatuh cinta. Dan aku terluka. Luka dari cinta yang begitu sulit kubaca. Luka yang ku rasa saat aku sedang jatuh (cinta) begitu dalam.

0 Response to "Kembar Siam"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

loading...

Iklan Tengah Artikel 1

loading...

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...