Mengoyak Luka

Kembali ke kota itu
Bak berdiri di hamparan tanah tanpa melihat apa apa.
Hanya ada karbondioksida yang tersisa
Hujan es tiba tiba mengguyur seluruh permukaan bumi.

Halusinasi menyergap segala kesepian
Kumpulan luka bertebaran di atas kulit ari yang tak tersayat sedikitpun.
Aku seperti tertelan mesin waktu--membuka perban yang masih berlumuran darah dan nanah
Lalu berputar dan kembali ke pemakaman jenazah yang telah lama dikuburkan.

Air mata tak lagi bermuara di pipi.
Ia tenggelam, mengalir semakin ke dasar dan menciptakan genangannya sendiri.

Kau tahu
Menangis dengan berliter-liter air yang menderai masih lebih menyenangkan
Dibandingkan hati yang menderu-deru dalam kesendirian.

Isakan merupa jeritan hati paling diam.
Aku tak mampu membaca diriku sendiri.
Barangkali aku hanya bayangan yang diam
patuh menyaksikan tubuhku menyayat dirinya sendiri.

0 Response to "Mengoyak Luka"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

loading...

Iklan Tengah Artikel 1

loading...

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...