Pengakuan
(jelang kepergian)
Aku lebih sering terbangun dalam pejam secara diam-diam.
Meneteskan air mata sebab akulah si lemah yang tak pernah suka pada (jarak) penyebab perpisahan.
Aku memandang lekat-lekat setiap jengkal wajah indahmu.
Menyimpannya lebih banyak di ingatanku
Sebagai pengobat saat kau tak mampu kutemukan untukku melepas rindu.
Skand, jagalah perempuan yang selalu kau bilang cantik ini di ingatan.Jagalah perempuan yang selalu kau goda ini setiap pagi menjelang.
Dan, (Skand) jagalah perempuan yang terlalu manja pada ketiadaan hadirmu ini
saat kau tak nyata di hadapan.
Jarak memaksa kita untuk saling berjauhan.
Kau pasti tahu (Skand).
Kali ini, aku lebih sering terbangun dalam pejam secara diam-diam.
Tapi, untuk kali ini semua berbeda.
Aku tidak lagi merasa semua ini sebagai luka apalagi pesakitan.
Namun, tak juga kurasakan sebagai bahagia.
Bagaimana mungkin aku mengaggap ini kebahagiaan?
Jika hadirmu saja tak nyata di hadapan.
Aku hanya bisa memelukmu lewat tengadah kedua tangan.
Lewat doa-doa yang kukirimkan.
Sebagai perawat untuk rindu-rinduku yang mulai lebam.

0 Response to "Pengakuan"
Post a Comment