Ciuman Pagi Ratih
Ratih tahu betul bahwa lelaki bernama Lesmana itu idak akan pernah meninggalkannya. Itu adalah satu-satunya keyakinan yang selalu Ratih tanamkan agar ia tetap kuat. Ratih memang kerap menangis tanpa sepengetahuan Lesmana. Itu karena ia begitu takut pada kesendirian. Hatinya kerap terasa begitu kosong. Pun begitu sesak di jejali rindu yang memaksanya untuk menghadirkan Lesmana, lelaki yang sangat dicintainya. Namun ia tidak bisa. Ratih tidak bisa lagi membuat lelaki itu selalu ada di sampingnya setiap waktu--berbagi tawa dan lelucon yang sebenarnya tidak lucu sedikitpun.
Rindu memang tidak pernah mengenal waktu. Meski waktu telah menunjukkan tepat jam 2 pagi, Ratih masih saja terjaga. Menghitung rintik-rintik hujan yang masih saja betah turun di langit matanya. Jatuh dengan pasti di atas kasur lusuh berseprai hitam itu. Ratih selalu suka seprei berwana hitam. Bukan karena kesedihan dan ketakutannya, tapi karena ratih tidak perlu mencucinya ketika sisa-sisa mereka bercinta masih tertinggal di sana. Ratih suka pada aromanya. Selalu menjadi penina bobo setelah tubuhnya letih bercakap-cakap dan menangisi Lesmana.
Ratih tersengal-sengal menahan agar hujan yang ia turunkan tak bersuara dan terjatuh di atas tubuh dingin Lesmana yang sedang tertidur disampingnya. Dan seperti pagi-pagi sebelumnya, Ratih selalu bangun dengan kain hitam menutup matanya. Dan dengan tubuh yang gemetar, Ratih mengecup kening Lesmana secara perlahan. Ratih tak ingin menghancurkan tubuh suaminya yang tak pernah sampai ke resepsi pernikahan mereka yang ke dua setelah menyalip truk bermuatan penuh di tikungan tajam empat puluh hari yang lalu.
Rindu memang tidak pernah mengenal waktu. Meski waktu telah menunjukkan tepat jam 2 pagi, Ratih masih saja terjaga. Menghitung rintik-rintik hujan yang masih saja betah turun di langit matanya. Jatuh dengan pasti di atas kasur lusuh berseprai hitam itu. Ratih selalu suka seprei berwana hitam. Bukan karena kesedihan dan ketakutannya, tapi karena ratih tidak perlu mencucinya ketika sisa-sisa mereka bercinta masih tertinggal di sana. Ratih suka pada aromanya. Selalu menjadi penina bobo setelah tubuhnya letih bercakap-cakap dan menangisi Lesmana.
Ratih tersengal-sengal menahan agar hujan yang ia turunkan tak bersuara dan terjatuh di atas tubuh dingin Lesmana yang sedang tertidur disampingnya. Dan seperti pagi-pagi sebelumnya, Ratih selalu bangun dengan kain hitam menutup matanya. Dan dengan tubuh yang gemetar, Ratih mengecup kening Lesmana secara perlahan. Ratih tak ingin menghancurkan tubuh suaminya yang tak pernah sampai ke resepsi pernikahan mereka yang ke dua setelah menyalip truk bermuatan penuh di tikungan tajam empat puluh hari yang lalu.

0 Response to "Ciuman Pagi Ratih"
Post a Comment