nyanyian bantal
Aku ingin menangis, menangis sejadi-jadinya. ini perih sekali, kau tahu, sungguh perih. Aku benci, aku ingin berteriak, tapi percuma saja, semua tak akan mengembalikannya seperti sedia kala. Aku benci kamu, aku benci ketidak sukaanku. Aku benci sendiri, tapi aku juga benci ada kau di sini. aku benci diriku yang seperti ini. aku benci lagi-lagi harus mengalah pada ketidak sukaanku. aku berhak egois bukan? aku berhak untuk tidak mengalah pada ketidak sukaanku bukan? tapi kau?. Ahh aku benci.
Lihatlah, aku akhirnya menangis. Puaskah kau lagi-lagi membuat air mataku ini mengalir?. Puaskah kau melihat aku berkali-kali mengalah pada ketidak sukaanku? sedang kau?
Inikah cinta itu? Inikah bahagia yang selalu kau tawarkan padaku?. Bahkan disaat aku ingin hanya ada tawa untuk beberapa saat saja, kau justru ciptakan tangis yang kian deras di mataku. Lagi-lagi, kau patahkan kakiku untuk melangkah, kau patahkan lagi tanganku untuk menggapai, dan kau, lagi-lagi lukai hatiku menjadi kian perih. Aku benci ini, aku benci."Aku nggak bisa tanpa kamu Mel!!"
"Nggak bisa katamu?.Lalu bagaimana aku?. Apa kau fikir aku bisa terus begini?. Sekali saja, bisakah kau buat aku untuk tidak menangis saat aku benar-benar butuh ketenangan Yan?. Sidangku tinggal beberapa hari lagi, tapi kau selalu membuat pikiranku kacau begini. Bahkan membayangkan sekedar menenagkan resahku di pundakmu pun rasanya aku nggak sanggup!!"
"Tapi Mel, ini semua bukan keinginan aku".
"Iya, semua hal yang menyakitkanku selalu kau bilang bukan keinginanmu, padahal semua nyata berasal darimu Briyan!. Sudahlah, lebih baik kau pergi."
Amelia melangkah memunggungi lelaki yang selalu saja mengatakan "ini bukan keinginanku" untuk semua pesakitan yang ia ciptakan di hati wanita yang "katanya" amat sangat ia cintai, termasuk malam ini, kesekian kali membuatnya menunggu berjam-jam untuk janji yang ia buat sendiri lalu, dengan tiba-tiba pula ia batalkan dengan seenak hati. Sampai di persimpangan, Amelia menyebrangi jalan, kemudian tiba-tiba saja
"Brakkkk"
Suara seperti benda terhantam terdengar jelas di telinga Briyan.
"Amelia!!"
Briyan sontak berlari menuju sumber suara berasal. Amelia rebah, darahpun terus saja keluar dari kepalanya yang pecah. Amelia tertabrak, ya, ia tertabrak sebuah mobil yang kemudian langsung saja "berlari" setelah menelindas kepalanya. Tak ada yang berani mendekat, semua hanya berdiri mematung, bahkan sekedar memanggil ambulance saja tak ada yang berani.
"Apa ini?. Aku kenapa?" tanyaku pada diriku sendiri.
"Kenapa ramai sekali?"
"Briyan, kenapa ia ada di sini dan menangis? lalu kenapa aku tergeletak di sini?"
Aku coba bertanya pada salah satu perempuan setengah baya yang sedang berdiri dalam kerumunan orang yang berada di sekelilingku. Belum sempat aku bertanya, tiba-tiba sebuah kalimat mengejutkan keluar dari mulutnya.
"Kasihan gadis ini, ia masih terlalu muda untuk meninggal apalagi dengan cara seperti ini. Kulihat tadi ia baru saja bertengkar dengan kekasihnya di depan Cafe itu". Ucapnya pada perempuan setengah baya lain di sebelahnya sambil menunjuk ke arahku. Aku tidak mengerti, ku coba berdiri, dan alangkah terkejutnya aku--saat kudapati diriku sendiri bersimpah darah dan tak bernafas lagi.
"Tidak!!".
Aku melangkah mundur seraya menutup mulutku dengan kedua tanganku. Aku seperti menabrak sesuatu dan terjatuh.
"Aww, sakit sekali".
Sakit? Aku berfikir keras, apakah orang yang meninggal bisa merasakan sakit? Langit malam menjadi sama persis dengan langit-langit kamar. Dan semua keramaian, lalu tubuh yang tergeletak bersimpah darah dan Briyan yang menangis, kemana semua itu? Amelia masih menerawang, sayup-sayup terdengar nada dering dari ponselnya berbunyi dari bawah bantal.
0 Response to "nyanyian bantal"
Post a Comment