Antara Kau dan Seduhan Kopi(ku)
Perihal kopi.
Aku tak ingin memintamu untuk menyesapnya (lagi) bersamaku.
Sebab dengannya, aku pernah menorehka luka disana, tepat di hatimu.
Perihal kopi.
Aku memang bukan pecinta, atau penikmat serbuk hitam berwarna pekat itu.
aku hanya menyukainya,
menyesap sambil menghirup aromanya
membuatku bisa berimajinasi dalam banyak hal,
terutama tentangmu.
Perihal kopi.
Entah kenapa,
Kau bisa sebut aku gila atau apalah.
Tapi dari setiap kepulan asapnya, aku sering mendapati siluetmu.
Merasakan hangat pelukmu dari tiap sesapannya dalam cangkirku.
Perihal kopi.
Disetiap serbuknya, mengandung kafein yang
menyebabkan candu bagi setiap orang yang menyesapnya.
Sama seperti cinta(ku) yang di dalamnya ada kamu, sebagai kafein yang
menjadikanmu candu, bagi tiap anak-anak rinduku yang tak pernah henti menggebu.
Menagih temu disetiap waktu.
Perihal kopi.
Kau tau tuan,
aku suka mengibaratkan cinta(ku) seperti paitnya.
pait yang tak pernah bosan aku menyesapnya,
pait yang tak pernah membuatku ingin berhenti menyesapnya.
Bagiku, pait dalam cinta itu adalah luka
luka yang tak pernah bisa membuatku bosan mencintai(mu),
luka yang tak pernah bisa membuatku berhenti mencintai(mu).
Perihal kopi.
Apapun filosofiku tentangya
aku tau, selalu ada pesakitan disetiap kau dengar namanya kuejakan.
Tuan,
kau tak perlu lagi memaksakan untuk menyesapnya.
Mencintaiku tak lantas harus membuatmu menyukai apa yang menjadi kesukaanku.
Aku tak ingin menjadi egois,
cukup menerima dan biarkan aku saja menyesapnya.
Jikapun tidak, maka aku yang akan belajar melupakannya,
meleburnya menjadi secangkir cinta yang paitnya akan selalu kusesap.
Tanpa bosan dan tanpa ingin berhenti.
Aku tak ingin memintamu untuk menyesapnya (lagi) bersamaku.
Sebab dengannya, aku pernah menorehka luka disana, tepat di hatimu.
Perihal kopi.
Aku memang bukan pecinta, atau penikmat serbuk hitam berwarna pekat itu.
aku hanya menyukainya,
menyesap sambil menghirup aromanya
membuatku bisa berimajinasi dalam banyak hal,
terutama tentangmu.
Perihal kopi.
Entah kenapa,
Kau bisa sebut aku gila atau apalah.
Tapi dari setiap kepulan asapnya, aku sering mendapati siluetmu.
Merasakan hangat pelukmu dari tiap sesapannya dalam cangkirku.
Perihal kopi.
Disetiap serbuknya, mengandung kafein yang
menyebabkan candu bagi setiap orang yang menyesapnya.
Sama seperti cinta(ku) yang di dalamnya ada kamu, sebagai kafein yang
menjadikanmu candu, bagi tiap anak-anak rinduku yang tak pernah henti menggebu.
Menagih temu disetiap waktu.
Perihal kopi.
Kau tau tuan,
aku suka mengibaratkan cinta(ku) seperti paitnya.
pait yang tak pernah bosan aku menyesapnya,
pait yang tak pernah membuatku ingin berhenti menyesapnya.
Bagiku, pait dalam cinta itu adalah luka
luka yang tak pernah bisa membuatku bosan mencintai(mu),
luka yang tak pernah bisa membuatku berhenti mencintai(mu).
Perihal kopi.
Apapun filosofiku tentangya
aku tau, selalu ada pesakitan disetiap kau dengar namanya kuejakan.
Tuan,
kau tak perlu lagi memaksakan untuk menyesapnya.
Mencintaiku tak lantas harus membuatmu menyukai apa yang menjadi kesukaanku.
Aku tak ingin menjadi egois,
cukup menerima dan biarkan aku saja menyesapnya.
Jikapun tidak, maka aku yang akan belajar melupakannya,
meleburnya menjadi secangkir cinta yang paitnya akan selalu kusesap.
Tanpa bosan dan tanpa ingin berhenti.

0 Response to "Antara Kau dan Seduhan Kopi(ku)"
Post a Comment