Luka itu Bernama cinta
Pada sebuah rasa yang sering kau sebut cinta.
Aku sering mencoba mengulang membacanya.
Mengeja huruf demi hurufnya
Yang selalu kau bacakan kepadaku setiap waktu.
Suatu hari, aku membacanya sebagai tawa.
Kemudian aku berhasil membacanya sebaga bahagia.
Lalu di hari berikutnya aku membacanya sebagai kebersamaan
Sebagai genggam tanganmu yang tak pernah kau lepaskan.
Kita tertawa.
Kita berbagi canda.
Kita bahagia.
Iya, kau membantuku membaca cinta sebagai bahagia.
Tapi, ketika tidak lagi hari yang berganti.
Kau membiarkanku mengeja cinta ini sendiri.
Bahkan kau nyaris tak pernah lagi membacakannya kepadaku.
Dan aku, meski terus mencarimu
Tetap saja, selain jarak, aku tak mampu menemukanmu di sisi manapun.
Aku terus mencoba mengingat
Huruf demi huruf yang kau sajikan kepadaku setiap waktu dulu.
Huruf demi huruf yang tak mampu lagi kubaca seperti dulu.
Dalam kesediahan aku membacanya sebagai air mata.
Dalam diamaku membacanya sebagai kecewa.
Dalam kesendirian aku membacanya sebagai sesak di dada.
Dan dalam setiap sela jariku yang kosong
Aku membacanya sebagai luka.
Iya, luka.
Luka yang dulu pernah kau sebut sebagai cinta.
0 Response to "Luka itu Bernama cinta"
Post a Comment