Pada Sebuah Senja (Yang Terakhir)
Senja kala itu, entah kenapa terlihat begitu mesra di mataku
Menjadi saksi untuk pertemuan kita yang terakhir, mungkin itu sebabnya
Sekuat mungkin, aku mencoba untuk menahan tangis ini, agar tak pecah
Tapi apa daya, bendungan yang kumiliki, tak sekuat perih yang ada di hati
Menyakitkan memang
Menyadari, tak bisa bertemu, apa lagi melewati hari bersamamu seperti hari ini apa lagi dulu
Menjadi saksi untuk pertemuan kita yang terakhir, mungkin itu sebabnya
Sekuat mungkin, aku mencoba untuk menahan tangis ini, agar tak pecah
Tapi apa daya, bendungan yang kumiliki, tak sekuat perih yang ada di hati
Menyakitkan memang
Menyadari, tak bisa bertemu, apa lagi melewati hari bersamamu seperti hari ini apa lagi dulu
Terlebih, aku tak pernah menyukai perpisahan yang mengatasnamakan "Jarak"
Aku telah memutuskan untuk menyerah saja
Tapi kau mencoba menguatkan ku dengan berkata "Jangan"
Memintaku mencobanya dengan janji yang kau tawarkan
Bahwa kau takkan pernah membiarkanku merasa sendirian
Dan jarak ini akan kau buat hanya bagai beberapa mili saja
Aku terdiam
Mencoba merenungkan segalanya
Dalam anggukan aku mengiyakan
Meski hatiku penuh dengan sesak dan pesakitan
Bukan karena "Jangan" dan janji yang kau tawarkan
Terlebih karena cinta yang kurasakan
Meski tak ada lagi tempatku untuk bersandar saat ini, esok dan hari-hari selanjutnya
Aku mencoba untuk tetap berdiri tegap di hadapanmu
Aku hanya mampu merapalkan pinta kepada sang pencipta
Agar cinta kita selalu dijaga oleh-Nya
Hingga nanti kita kembali dipertemukan untuk saling melepas kerinduan
Begitu banyak aksara yang ingin kuungkap
Tapi rasanya, terlalu banyak hingga bibirku hanya bisa diam, kelu lalu terkatup
Biar saja, dua bola mata kita yang saling tatap
Menyampaikan segala aksara, yang tak bisa aku sampaikan
Dan biarlah, dua bola mata kita
Yang saling menyampaikan salam perpisahan
Dan lihatlah, belum lagi kepergianmu
Tangisku pecah dan mataku kembali basah
Sebab aku sudah sangat merindukan
Hadirmu dan tatapan dua bola matamu.
Aku telah memutuskan untuk menyerah saja
Tapi kau mencoba menguatkan ku dengan berkata "Jangan"
Memintaku mencobanya dengan janji yang kau tawarkan
Bahwa kau takkan pernah membiarkanku merasa sendirian
Dan jarak ini akan kau buat hanya bagai beberapa mili saja
Aku terdiam
Mencoba merenungkan segalanya
Dalam anggukan aku mengiyakan
Meski hatiku penuh dengan sesak dan pesakitan
Bukan karena "Jangan" dan janji yang kau tawarkan
Terlebih karena cinta yang kurasakan
Meski tak ada lagi tempatku untuk bersandar saat ini, esok dan hari-hari selanjutnya
Aku mencoba untuk tetap berdiri tegap di hadapanmu
Aku hanya mampu merapalkan pinta kepada sang pencipta
Agar cinta kita selalu dijaga oleh-Nya
Hingga nanti kita kembali dipertemukan untuk saling melepas kerinduan
Begitu banyak aksara yang ingin kuungkap
Tapi rasanya, terlalu banyak hingga bibirku hanya bisa diam, kelu lalu terkatup
Biar saja, dua bola mata kita yang saling tatap
Menyampaikan segala aksara, yang tak bisa aku sampaikan
Dan biarlah, dua bola mata kita
Yang saling menyampaikan salam perpisahan
Dan lihatlah, belum lagi kepergianmu
Tangisku pecah dan mataku kembali basah
Sebab aku sudah sangat merindukan
Hadirmu dan tatapan dua bola matamu.

0 Response to "Pada Sebuah Senja (Yang Terakhir)"
Post a Comment