Maaf

Sesaat sebelum kepergianmu kala itu. Terlihat guratan di wajahmu, yang aku tau itu menandakan sebuah kesedihan. Sorot mata dan kerutan di dahimu, seakan mengatakan ada begitu banyak beban yang kau bawa saat meninggalkan kota ini. Entah itu benar atau  tidak yang kurasakan, tapi melihatnya membuatku ingin membenamkan kepalamu  dalam pelukan dan dadaku. Membelai kepalamu, memeluk dengan sangat erat tubuhmu dan mengecup mesra keningmu. Aku ingin merasakan apa yang  sebenarnya kau pendamkan.
Apa sebenarnya yang kau tahankan? Aku percaya, bawha kamera tak perna mampu menyembunyikan rasa yang ada pada objek jepretannya. Dan aku melihat itu padamu. Aku ingin sekali menguatkanmu. Tapi apa dayaku, nyeri inipun membuatku tak  mampu berdiri tegar, Maaf. Entah kenapa aku merasa kau begitu lelah. Aku  merasa kau begitu punya banyak beban. Maaf. Jika terkadang sikap manjaku yang terlalu memintamu untuk tetap di sini hanya menambah beban fikiranmu. Maaf. Jika  ketidakdewasaanku menyulitkan langkahmu. Dan Maaf.  Jika keluh kesahku semakin menambah kerutan di dahimu.  Maafkan aku. Aku hanya belum bisa, dan mungkin akan sulit bagiku untuk menjadi bisa--menikmati rindu dengan jarak ini. Maafkan aku. Semoga tuhan  selalu menjagamu disana. Dan menjaga KITA dalam sebuah perpisahan bernamakan  Jarak.

0 Response to "Maaf"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

loading...

Iklan Tengah Artikel 1

loading...

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...