Oleh Jiwa Untuk mEraih taQwa

Orang yang mengenal tuhan, pasti mencintai-Nya. Dan orang yang mengetahui hakikat dunia, pasti menjauhinya.

Ketika menemukan cela pada dirinya, ia segera meminta tolong kepada Allah, berserah diri kepada-Nya, dan mengemis bantuanya, karena ia adalah kekasih-Nya. Ia mengedepankan suara hati nurani di atas kehendak dirinya, bersimpuh di hadapan Tuhan, lalu berkata:

"Engkau adalah Tuhanku. kau ciptakan aku sesuai dengan kehendak-Mu, bukan kehendakku. aku sedikitpun tidak mengetahui keadaanku dan apa yang kau lakukan terhadapku.
kuyakin, Engkau lebih menyayangiku dari pada diriku sendiri. Aku telah mengutamakan jiwaku dibandingkan diriku sendiri dan aku berserah diri kepada-Mu. Terimalah aku, sebab Engkau telah menjelaskan dalam kitab-Mu,
"barang siapa menyerahkan dirinya kepada Allah dan ia orang yang berbuat baik, sungguh ia telah berpegang pada buhul tali yang kokoh." Aku telah menyingkirkan segala sesuatu selain-Mu [dari diriku]. Pandanganku hanya tertuju kepada-Mu. Aku sudah memutuskan semua hal dan hanya menggantungkan diri kepada-Mu."

Pada makhluk yang demikina, Allah Swt. akan senantiasa menjaga, memelihara, menolong dan membahagiakannya, sementara sang hamba senantiasa menyibukkan diri untuk beribadah, mengutamakan balasan di sisi-Nya, menunaikan hak-hak-Nya, membela dan menegakkan agama-Nya, serta menyerukan kebaikan kepada hamba-hamba-Nya. Begitulah aktivitasnya hingga ajal menjemput. Begitulah wali dan kekasih sejati Allah.
seperti halnya gambaran yang terdapat dalam hadis qudsi:
tak ada yang lebih mendekatkan seorang hamba kepada-Ku dari pada pelaksanaan ibadah yang kuwajibkan. Sesungguhnya hamba-Ku benar-benar mendekatiku dengan ibadah-ibadah sunah hingga aku menciintainya, dan tidak ada ibadah sunah yang lebih mendekatkan hambaku kapada Ku dari pada nasihat kepada-Ku hingga aku mencintainya. Apabila aku telah mencintainya, aku mennjadi telinganya yang dengannya ia mendengar, matanya yang dengannya ia melihat, tangannya yang dengannya ia melangkah, lidahnya yang dengannya ia berbicara, dan akalnya yang dengannya ia berpikir.
Hadist ini diriwatkan isma'il ibn Nashr dari Abu al Nadzr al-Qath'i , dari 'Abd al-Wahid ibn Hamzah, dari bekas budak 'Urwah ibn al-Zubayr, dari Aisyah r.a dari Rasulullah saw. serta oleh Ibrahim ibn-al-Mustamirr al-Bashri dari Abu 'Amir al-Aqdi, dari 'Abn al-Rahman ibn Maymun, bekas budak 'Urwah, dari 'Urwah, dari Aisyah r.a, dari Rasulullah saw.

Bagaimanakah menurutmu keadaan hamba yang berfikir, berucap, mendengar, melihat, memegang, dan berjalan dengan Allah??
Mungkinkah tindakan dan perjalanan hidupnya akan menyimpang???
tentu saja tidak..
Karna Allah memberinya berbagai kemudahan. Tingkah lakunya dijaga, dilindungi, dipelihara, dan dikendalikan oleh-Nya. karena ia telah membunuh hawa nafsunya, segala kesusahan terasa mudah. Allah Swt selalu menerangi jalnnya, sehingga berbagai kemudahan terhampar di hadapannya. Allah memberinya ilham dan pemahaman serta menjadikannya "penguasa lubuk hati" (ulul al-albab). Bicaranya mengandung hikmah dan diamnya berarti renungan. Ketika melihat, ia menyingkap rahasia hikmah. Saat berjalan, ia berwibawa. Kala berperang, ia mendapat kemenangan. Hati mencegahnya untuk terlalu banyak melakukan pertimbangan, mengingat semua urusan sudah dimudahkan.

Subhanallah...alangkah indah jika kita mampu menjadi kekasih allah yang setiap tindakan dijaga oleh-Nya.
Jika kita bayangkan..sulit memang untuk menjadi kekasih allah dan mendapat penjagaan dari-Nya. Akan tetapi,,tiada hal yang tak dapat kita lakukan jika kita mau berusaha, yakin dan berdoa. karna Allah menyukai hambanya yang slalu berusaha dalam kebajikan,,dan Allah menyukai hambanya yang senantia berdoa,,serta keyakinan itu dapat mengalahkan segala keraguan.
semoga kita mampu mendapat penjagaan yang indah dan menjadi kekasih-Nya..
Amin...

sumber  : the WISDOM OF AL-HAKIM AL-TIRMIDZI

0 Response to "Oleh Jiwa Untuk mEraih taQwa"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

loading...

Iklan Tengah Artikel 1

loading...

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...